Pelajaran Yang Bisa Dipetik Dari Film Everest

10/06/2015


Beberapa tahun lalu, saya dan mungkin beberapa teman seakan terpana akan sebuah film tentang pendakian di Indonesia. Saat itu, film tersebut membuat hampir semua anak muda untuk naik gunung atas dasar kekinian. Sayapun saat itu memimpikan untuk mendaki gunung dan merasakan keindahan dan tantangan alamnya. Namun, berbeda saat saya menonton film Everest. Iya, Everest memang indah, sangat malahan. Film ini dari awal hingga akhir menampilkan keindahan mulai dari perjalanan awal di kota Kathmandu hingga mencapai puncak Everest sendiri.


Bukan semangat berpetualang yang saya dapatkan di film ini namun sebuah renungan. Salah satu adegan di film ini menampilkan dialog yang membuat saya merenung, "mengapa kamu akan mendaki Everest?". Pertanyaan yang susah dijawab bagi para calon pendaki Everest di film tersebut, pertanyaan yang dijawab oleh ego dan keinginan masing-masing. Ada yang mendaki karena masalah keluarga, ada yang mendaki untuk memberi inspirasi bagi anak didiknya untuk sesuatu yang tidak mungkin bagi sebagian orang, ada yang ingin melengkapi tantangan mendaki tujuh gunung tertinggi didunia, semua datang ke Everest dengan ego dan keinginan masing-masing.

Pendakian Everest tahun 1996 yang memakan korban total tujuh orang ini menjadi lebih dikenal karena menunjukan kepada mata dunia komersialnya bisnis pendakian gunung. Rob Hall digambarkan seperti orang dilematis, di satu sisi ada adegan dia memungut sampah pendaki yang menunjukan begitu cintanya ia kepada Everest namun disisi lain adegan Beck Wathers yang berteriak "untuk apa aku membayarmu $85.000 kalau hanya untuk mati seperti dalam antrian Wallmart", Rob Hall hanya diam dan menurut saja seperti menunjukan kepasrahan soal bisnis pegunungan yang memang hal yang menggiurkan bagi dia.

Begitu ramainya kondisi basecamp di Everest seperti menggambarkan keadaan pendakian gunung sekarang. Semua hanya ingin mencapai puncak untuk menunjukan kehebatan masing-masing. Pendakian Everest yang betul-betul memerlukan persiapan matang dan latihan berminggu-minggupun belum tentu tanpa bencana. Seperti kata Anatoli Boukreev “Manusia selalu mencoba bersaing dengan gunung dan gununglah yang selalu menjadi pemenang”. Satu kesalahan kecil saja seperti hanya lupa mengisi penuh oksigen dapat menjadi bencana besar dalam pendakian apalagi yang mendaki asal-asalan bukan?

Adegan dilematis seorang Rob Hall yang menuntun Doug Hansen yang terlambat menuju puncak yang walaupun secara nalar ia sadar bahwa itu adalah hal berbahaya baginya menunjukan bahwa ego manusia adalah hal yang harus dilawan saat mendaki pegunungan. Doug terlalu mementingkan puncak daripada keselamatan dirinya sendiri, sementara Rob yang memang menunjukan kesolidaritas sebuah persahabatan celakanya harus turut menjadi korban keganasan badai gunung Everest, adegan yang membuat penonton menahan nafas karena hal baik yang dilakukan Rob menjadi sia-sia.

Memberi pelajaran kepada kita bahwa pengambilan keputusan yang benar dan tepat terutama untuk survival adalah hal yang sangat sangat begitu penting. Terlalu memaksa dan terlalu yakin soal kemampuan kita mendaki tak akan menjadi jaminan keselamatan dan keberhasilan. Scott Fischer menjadi korban keterlaluyakinan dia untuk menaklukan Everest sesuai waktu dan kondisi yang ditentukan. Kematian pendaki menjadi gambaran, sehebat dan sesiap apapun kita gunung adalah tempat penuh misteri yang bisa merenggut nyawa kita kapan saja.

Saat mendaki gunung, film ini menggambarkan sifat asli manusia akan kelihatan. Tebakan awal saya soal sikap sombong Beck Weathers yang ternyata salah, Beck begitu humanis dengan terus berjuang hidup dengan memikirkan keluarganya. Berbeda dengan sikap Jon Krakauer, seorang pendaki yang acuh saat diminta Toli untuk menolong rekan dengan berpura-pura bermasalah dengan penglihatan. FIlm ini begitu membuat kita berkaca dahulu sebelum mendaki sebuah gunung. Siapkah kita melawan keinginan kita, siapkah kita peduli kepada orang lain saat kita bisa selamat dengan mementingkan diri sendiri.

Jangan memperdulikan akting para aktor di film ini yang menggambarkan para tokoh asli Bencana Everest 1996, film ini lebih menonjolkan makna dari sebuah perjalanan. Film ini memberikan apa yang harus dipersiapkan dalam pendakian terutama adalah sikap kita, bukan juga tentang peralatan mewah dan komplit yang juga ditampilkan di film ini yang di awal pasti membuat kita berkeinginan untuk memilikinya. Film ini memberi kritik kepada calon-calon pendaki, sudah siapkah kalian dengan apa yang bisa terjadi pada kalian terutama saat menghadapi kematian.

Saya rekomendasikan film ini untuk ditonton, bukan sebagai referensi untuk menaiki pegunungan namun sebagai tutorial calon pendaki. Lucu sekali memang film ini dipromosikan di Indonesia sebagai film yang mengajak kita untuk mendaki. Semoga pelajaran yang bisa dipetik dari film yang begitu bermakna ini dapat diambil. Keindahan tampilan perjalanan Everest di film ini hanya bonus. Selamat merenung setalah menonton. Salam.

Foto bersama mereka yang meninggal di bencana Everest tahun 1996. (kiri ke kanan) Doug Hansen, Andy “Harold” Harris, Rob Hall, Yasuko Namba. sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/everest/etc/remembering.html

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

First