Menyantap Sate Gajih Tanpa Harus Menanti Sekaten

3/10/2016
Sate Gajih identik dengan sekaten, makanan dari lemak daging sapi ini selalu hadir dalam acara tahunan menyambut maulid Nabi Muhammad SAW tersebut. Jika memang benar-benar nyidam namun sekaten masih jauh dari penyelenggaraan ataupun sudah terlewat, jangan kuatir ada seorang ibu-ibu yang tiap sore menawarkan sate gajih andalannya, tak hanya itu, ada menu makanan lain yang tentunya tak kalah sekatenisme.


Jika ada yang belum tahu sate gajih, gajih berasal dari kata jawa, gajih bahasa jawa dari lemak. Lemak yang dipakai berasal dari daging sapi atau sandung lamur. Bumbu dari gula merah dan bawang yang dibalutkan pada lemak sapi menjadikan rasa sate gajih berasa manis. Sate gajih akan dibakar setengah matang dan baru akan dibakar lagi jika ada pembeli. Menjadikan sate gajih ini begitu panas dan lumer saat dimulut dengan sensasi yang unik. Jangan terlalu membiarkan sate gajih ini, sate gajih harus segera dimakan setelah dibakar karena jika tidak akan ngendal atau lemak mengeras.

Pagelaran sekaten menjadi momen yang sering dipakai penjual sate gajih menjajakan dagangannya. Dahulu, tidak hanya sekaten sebagai pelabuhan bagi pedagang sate gajih ini. Setiap ada wayang, ketoprak atau pasar malam tingkat desa dan kecamatan, pedagang sate gajih selalu hadir. Namun sayang pedagang semakin sedikit dengan sedikit pulalah wayang, ketoprak atau pasar malam yang diadakan. Pedagang lebih sering terlihat pada sekaten, hajatan besar yang sebenarnya hanya berlangsung setahun sekali.

Hanya ada dua pedagang yang saya tahu rutin berjualan sate gajih tiap sore tanpa perlu ada sebuah acara besar yang melengkapi. Lokasinya, berada di depan Pura Pakualaman, dan satunya lagi berada di selatan Plengkung Gading, atau tepatnya selatan perempatan swalayan Maga jalan DI. Panjaitan. Nah yang di selatan plengkung gading inilah yang sering saya beli, selain karena dekat dengan rumah, ada menu lain yang juga tak kalah sedap dengan sate gajih. 

Selain sate gajih, ada sate hati sapi, sate ayam, sate babat dan yang spesial srundeng ayam. Semuanya berbumbu khas yang sama dengan sate gajih sehingga rasanya manis. Sate babat dan srundeng menjadi kesukaan bagi saya, potongan babat yang besar dan srundeng yang bertekstur kasar menjadi pilihan lauk makan malam yang nikmat. Harga sate gajih dan sate lainnya yang bersahabat menjadikan ibu-ibu penjual sate gajih ini langganan saya, dengan kisaran harga 1000 hingga 10000 cukup membuat rasa nyidam jajanan ala-ala sekaten terobati, tanpa harus menanti sekaten tentunya.



Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

5 komentar

Write komentar
10 Maret 2016 09.35 delete

Menggoda banget, cocok untuk di santap makan siang nanti. mau pilih sate ayam saja ah hihi

Reply
avatar
10 Maret 2016 10.10 delete

coba srundengnya juga... dari ayam kok...

Reply
avatar
10 Maret 2016 10.29 delete

Hmm aku nggak doyan srundengnya malah hehe

Reply
avatar
11 Maret 2016 13.17 delete

mungkin karena gula merah jadi kelihatan seperti daging ya

Reply
avatar