Blusukan Pasar Beringharjo Demi Sego Empal dan Iso Bu Warno

4/04/2016
Lokasinya yang mblusuk di tengah pasar tradisional terbesar membuat pencarian terhadap kuliner ini menjadi sensasi tersendiri. Selain bisa di sambi cuci-mata atau mengantar nyonya masing-masing untuk blonjo dipasar. Mencari kuliner yang dinamakan sego empal ini menjadi hal yang patut dicoba saat mengunjungi Yogyakarta. 


Nama warungnya adalah Sego Empal Bu Warno. Empal adalah masakan yang berasal dari daging sapi yang dimasak dengan bumbu. Warung ini berada di tengah-tengah riuhnya pasar Beringharjo. Tepatnya los timur lantai dua. Di los ini memang diperuntukan sebagai food court dari pasar Beringharjo. Walaupun tidak banyak dan tidak semodern pusat kuliner seperti kebanyakan, namun berkumpulnya pedagang yang jumlahnya tidak banyak ini sebagai pusat dari sebagian kuliner di pasar Beringharjo.

Sego Empal Bu Warno
Saya lihat ada dua warung yang menjual sego empal di los timur ini. Namun sebuah papan nama bertuliskan Sego Empal Bu Warno dengan embel-embel "yang asli" membuat langkah saya semakin yakin yang padahal sebelumnya tengak-tengok kanan dan kiri mencari warung ini. Ternyata nyempil di pojok selatan dan dekat tangga ke lantai satu yang ada akses keluar menuju jalan. 

Jika bingung silahkan cari papan nama ini.
Ah, menyesal saya parkir terlalu jauh. Pasar Beringharjo ini adalah pasar tradisional yang super luas sehingga perlu matang soal parkir-memarkir agar yang dicari tak terlalu jauh. Pokoknya kalau mencari warung Sego Empal Bu Warno parkirlah dekat-dekat masjid Mutaqien yang berada di selatan pasar Beringharjo, jangan parkir di parkiran tengah atau bahkan dekat jalan Malioboro, itu terlalu jauh.

Segera saya temui mbak-mbak penjaga warung ini. "Sego Empal satu mbak", kata saya. "Makan sini atau bawa pulang mas?" mbak penjaga warung bertanya. "Disini saja mbak, minumnya teh anget ya", jawab saya tak sabar. Terlihat mbak tersebut menghidupkan kompor dan memasukan seporsi empal dari piring ke wajan. Ternyata empal tersebut harus digoreng terlebih dahulu, saya kira langsung ambil saja.
Dulu sewaktu kecil saya hobi makan empal, jelas enak dan favorit untuk lauk. Kalau dulu langsung saja saya makan karena sudah digoreng, dulu seingat saya bungkusnya sangat khas, dari daun jati, sekarang penjual empal dengan daun jati sudah tidak pernah saya temui hingga sekarang. Empal yang saya makan waktu kecil dulu porsinya seperti rendang sekarang ini, rasanya manis dan lezat.

Sambil menunggu sego empal pesanan saya mbak-mbak penjaga warung tiba-tiba bertanya, "mau pakai lodeh tidak mas?". "Mboten mbak", jawab saya. "Oh iya mbak Iso harganya berapa ya?" tanya saya karena melihat dalam daftar menu ada tulisan Babat dan Iso. Iso ini adalah usus sapi yang digoreng. "1 ons nya Rp 22.000,- mas", jawab mbak itu cepat. Wah mahal juga ya batin saya. "Kalau seporsi mbak?" tanya saya lagi. "Seporsi Rp 11.000,- mas", jawab mbak itu cepat lagi. "Oke mbak tambah Iso satu porsi saja", jawab saya diplomatis, cukup seporsi agar tidak malu karena tanya-tanya terus.

Menu di Sego Empal Bu Warno, mau pesan minum Secang atau Asem eh malah dicoret.
Tak berapa lama mbak tersebut memasukan Iso untuk digoreng. Dan sego empal saya pun datang. Tunggu, tidak ada sambal!? Ah, saya sempat kaget ternyata sambal bisa ambil sendiri di wadah yang disediakan. Saya ambil sambal yang katanya enak menurut beberapa artikel yang membahas sego empal ini. Buset! Ampun pedasnya. Ternyata walau enak tapi pedasnya nampol kalau menurut saya. Cocoknya sih makan pakai tangan, tapi clingak-clinguk kiri-kanan saya tak menemukan tempat cuci tangan. Alamak, pakai sendok saja nih.

Terlalu kurang nyaman kalau saya makan pakai sendok. Kalau pakai tangan walaupun ndeso tapi nikmatnya dan puasnya dapat. Dengan pelan-pelan saya sendok nasi panas dan sambal tak lupa empal yang masih anget. Empalnya tidak terlalu manis seperti empal yang sewaktu kecil saya makan. Rasanya lebih ke asin pada bagian luar. Tekstur sedikit kasar namun tetap enak khas daging empal. Ah andaikan makan pakai tangan enak banget nih, berkali-kali pikiran saya memikirkan itu.

Baru beberapa sendok saya makan. Iso akhirnya diantar. Iso ini jangan kaget jika seporsi hanya sedikit. Ya, tahu sendirilah berapa harganya. Iso ini kalau menurut saya makanan enak yang susah memasaknya. Kok bisa!? Nah, bagi sebagian orang makan Iso bisa membuat jijik. Tahu kan Iso itu dari usus, nah usus sapi itu proses pencernaanya lumayan lamban jadi kadang Iso goreng masih ada didalamnya makanan sapi yang baru proses. Bukan kotoran sih, tapi jika agak lembek kan kadang bayangan kita bisa kemana-mana.

Iso Goreng Bu Warno, porsinya kurang puas sebenarnya.
Nah, Iso di warung sego empal ini memasaknya begitu sempurna jika saya boleh bilang. Iso matang dan kenyal sempurnya. Rasanya lebih manis daripada masakan empal. Kalau saya boleh menilai. Isonya lebih saya sukai daripada empalnya, apa karena saya suka makanan yang berlemak ya, ah inget kolesterol mas. Dengan lahap bergantian dan kadang bebarengan empal dan iso saya makan. Nyam, luar biasa nikmat dan bersensasi. Karena ditengah pasar yang riuh ada makanan se-enak ini.

Tak butuh lama untuk menghabiskan makanan enak. Sambil istirahat dan menghabiskan teh hangat yang ternyata panas pesanan saya ini. Saya melihat-lihat sekitar. Dekat Bu Warno ada sego empal juga. Di timurnya ada warung soto, dan lumayan ramai pembeli. Ada hasrat kapan-kapan untuk menjajal. Di sekitaran warung seliweran pedagang-pedagang pasar. Mereka bercengkerama satu dengan yang lain. Puas melihat sekitar saya justru lupa melihat-lihat warung sederhana bu Warno. Di dalam warung terdapat etalase. Ternyata dipajang, empal, babat, iso yang siap dibeli porsi ataupun kiloan dan stoknya lumayan. Ada rasa kepingin beli, namun ingat dompet dan kolesterol sedang meronta-ronta.

Monggo dibeli buat oleh-oleh.
Selesai menghabiskan teh panas saya panggil mbak-mbak penjaga warung untuk membayar. "Berapa mbak semuanya?" tanya saya. "Pas Rp 30.000,- mas" jawab mbak itu. "Sego empalnya berapa to mbak seporsi?" tanya saya penasaran karena saya baca artikel blog ada yang bilang hanya Rp 11.000,-. "Rp 17.000,- mas sekarang, Isonya Rp 11.000,- dan Teh Panasnya Rp 2.000,-", jawab mbak itu lagi. Weitsss mahal juga ya seporsi sego empal, ah tapi soal rasa saya jamin maknyusss seperti Bondan Winarno bilang di TV.

Selesai bayar saya pulang dengan perut kenyang menuju kontrakan teman saya di masjid Al-Hijroh untuk numpang Jumatan di tempatnya yang terkenal khotbah yang kilat. Kenapa, ya karena makan enaknya tidur hehehe. Ah, kapan perut ini mau sixpack.

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
18 April 2016 12.08 delete

wah,jaman masih kecil Ibuku suka bikin iso dibacem gitu mas, dah luama nggak makan. Ternyata ada warung empal iso tho di Bringharjo. Besok nyari aahh

Reply
avatar
18 April 2016 12.43 delete

yg diberingharjo agak mahalan, yg agak ramah kantong di pasar Kotagede kalau sore.. mbuh kok iso bedo harga pasarannya.. menang jeneng kali ya..

Reply
avatar