Jenang Gempol Pincuk Legendaris di Pasar Lempuyangan

4/15/2016
Jenang gempol selalu mengigatkan saya tentang masa kecil saya yang ngglidik. Biasanya seusai pulang sekolah saya bermain bersama teman-teman saya di rimbunan pohon bambu dekat kuburan desa. Di jam-jam siang tersebut, biasanya ada simbok penjual jenang dengan sepeda kronjot-nya lewat. Saya dan teman-teman selalu menghentikan laju sepeda simbok tersebut untuk mengerubungi jenang gempolnya. Ciri khas daun pisang sebagai piring serta makan dengan lipatan daun pisang juga adalah kenangan indah makanan tradisional semasa kecil.


Mencari jenang gempol di masa sekarang sulit. Melihat pedagang jenang gempol pun lewat menjajakan dagangan adalah pemandangan langka. Jika mau mencari ya harus kepasar. Sebagian pasar tradisional masih menghadirkan simbok penjual jenang gempol namun dengan porsi dagangan yang seadanya. Kadang belum terlalu siang penjual sudah tidak terlihat. Dipikir-pikir langka juga ya jenang gempol. Sekali nemu pedagang jenang kadang malah malas untuk membeli karena lingkungan sekitar kumuh.


Saya mendengar ada jenang gempol yang katanya cukup legendaris. Legendarisnya karena berkat berjualan jenang ini katanya bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah. Dengan berjualan jenang bisa menghidupi keluarga berarti jenangnya laris dong pikir saya. Biar tidak penasaran saya datangi penjual tersebut yang berada di dalam pasar Lempuyangan.

Awalnya saya tidak tahu jam buka jenang gempol ini. Saya beranjak menuju pasar Lempuyangan pukul 10.00 siang. Duh, pikir saya mungkin sudah hampir habis jenang ini karena sudah siang dan pasar semakin sepi. Ternyata saya salah, jenang gempol ini baru buka pukul 9.00 pagi. Beruntung saat saya datang seluruh jenang masih komplit.

Saya minta dibungkuskan 2 jenang, satu jenang gempol, satu jenang mutiara karena tertarik dengan bentuknya yang kelihatannya enak. Sebenarnya sempat saya berpikir untuk makan ditempat karena kondisi pasar yang sudah sepi dan loss pedagang jenang ini terlihat rapi dan bersih namun karena saat itu hari Jumat maka saya putuskan untuk membawanya pulang kerumah. 

Dua porsi saya cukup membayar Rp 8.000 yang masing-masing seharga Rp 4.000 kepada mbak Nova sang penjual. Saya hanya bertanya nama penjual jenang tersebut namun tidak bertanya apakah jenang ini adalah yang legendaris disini, tapi saya berkeliling didalam pasar Lempuyangan hanya mbak Nova yang menjual jenang gempol, ah mungkin mbak Nova ini adalah anak dari penjual jenang yang katanya legendaris tersebut.

Mbak Nova, manis to? semanis jenangnya,
Makan jenang ditempat bisa sambil ngobrol sama mbak Nova yang ramah.
Sampai rumah langsung saya buka bungkusan jenang dari pasar Lempuyangan tersebut. Saya justru membuka jenang mutiara terlebih dahulu karena bentuknya lebih membuat saya tertarik untuk makan. Jenang mutiara ini kenyal dan sedikit lengket, aromanya harum. Menurut saya mutiaranya terlalu besar, jika ukurannya sedikit kecil maka sempurna menurut saya. 

Habis menyantap jenang mutiara, saya buka jenang gempolnya. Saya bergegas membuka santan lalu menyiramnya di atas jenang seperti jenang mutiara sebelumnya. Dengan perlahan saya sendok jenang dan menyantapnya. Gurih, itu yang pertama saya rasakan. Satu sendokan lagi saya menemukan tekstur sedikit kenyal berbentuk bulatan yang rasanya manis. Keseluruhan saya memberi nilai 9 dari 10 untuk jenang ini. Kurang sempurnanya karena porsi yang sedikit.

Jenang Mutiara
Jenang Gempol
Benar kata orang jika jenang gempol pasar Lempuyangan begitu legendaris. Rasanya gurih dan enak. Ah, tahu begitu saya tadi beli dua porsi. Seporsi saja saya kurang, atau mungkin saya aja ya yang kelaparan hehehe. Nah, kalau mau mencoba datanglah setelah jam 9.00 di pasar Lempuyangan. Dari pintu masuk utama masuk lalu belok kiri sampai mentok lalu belok kanan. Ikuti jalan dan tak berapa lama kalian akan menemukan jenang gempol pincuk yang legendaris itu.

Pasar Lempuyangan

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
19 Oktober 2016 15.55 delete

jenang gempolnya kok gak ada gempol putih-e...??? jd cuma kayak jenang sumsum

Reply
avatar
28 Oktober 2016 08.38 delete

Duh,aku salah foto berarti :D

Reply
avatar