Bantul, 10 Tahun Yang Lalu, Refleksi Gempa Bumi 27 Mei

5/27/2016
sumber foto: 27mei.blogspot.com
Mei 2006, saat itu saya masih kelas 2 SMA. Subuh saya sudah terbangun dari tidur. Badan saya sedikit meriang, sore sebelumnya saya menonton pertandingan sepakbola di Mandala Krida Jogja dan sepertinya saya kelelahan karena terlalu semangat menjadi suporter. Lalu saya bilang ke ibu saya kalau ingin tidak berangkat sekolah hari itu, dengan segera surat ijin saya buat.

Belum begitu lama setelah saya membuat surat ijin tidak masuk sekolah tiba-tiba dinding kamar bergetar. Bagi saya, gempa adalah hal biasa karena biasanya hanya bergoyang sebentar dan sudah, kembali tenang. Namun hari itu gempa terasa begitu cukup lama.

Ibu dan nenek saya berteriak untuk segera keluar dari rumah. Dentuman keras sempat saya dengar dari dalam rumah yang ternyata adalah kamar adik saya yang runtuh atap serta seluruh gentengnya, syukurlah semua anggota keluarga sudah keluar rumah saat itu. Beberapa almari jatuh, motor dan beberapa perabotan sudah tergeletak tidak pada tempatnya.

Di luar rumah getaran masih belum hilang. Debu menggumpal naik ke atas di beberapa rumah tetangga saya. Banyak pengendara motor jatuh dijalan. Rumah saya memang berada di pinggir jalan lumayan besar. Untung saja tidak ada kecelakaan besar saat gempa terjadi.

Dengan lugunya, setelah kejadian yang mengguncang itu, saya berjalan kaki menuju SMA saya yang jaraknya dekat dengan rumah dengan membawa surat ijin tidak masuk. Pikiran saya surat tersebut akan saya titipkan kepada satpam. Tentu saja, sepi saya dapati di SMA saya karena petugas pagi seperti satpam memilih untuk pulang menuju rumah masing-masing akibat gempa.

Satu jam setelah gempa, keramaian jalan di depan rumah semakin besar, lalu menjadi hiruk pikuk. Tsunami...tsunami... teriak beberapa orang dari selatan. Panik tentu saja saya rasakan, saya dan keluarga segera meninggalkan rumah dengan barang bawaan seadanya. Baru beberapa kilometer kami pergi dari rumah, mobil polisi meraung-raung dan mengumumkan bahwa itu hanya isu saja. Pulanglah kami kembali menuju rumah, untung saja tidak ada barang hilang dirumah kami. Beberapa hari kemudian ada berita bahwa isu tsunami sengaja disebar hanya untuk menjarah rumah yang ditinggalkan.

Menjelang siang beberapa kali gempa susulan datang. Listrik masih mati sejak pagi. Kami hanya berani masuk rumah sebatas pintu depan saja. Siang hari akhirnya bantuan datang. Kami dijemput oleh keluarga dari ibu saya untuk berkumpul di rumah lama kakek saya. Kami putuskan meninggalkan rumah, membawa barang seperlunya.

Di sepanjang perjalanan, efek gempa yang menimpa kami bisa dibilang sangat parah. Saya melihat beberapa orang tergeletak di jalanan. Melintas gedung BPKP, gedung di selatan rumah saya sudah runtuh padahal sebelumnya gedung tersebut berdiri dengan megahnya. Apalagi rumah orang Jogja hanya sebatas rumah sederhana, tentunya luluh lantak karena gempa yang menimpa.


sumber foto: 27mei.blogspot.com
sumber foto: 27mei.blogspot.com
sumber foto: 27mei.blogspot.com
Sampai dirumah kakek saya, kondisi jauh lebih parah, hampir 80% rumah di desa itu luluh lantak termasuk rumah kakek saya yang tinggal puing-puing saja. Informasi mengenai gempa baru dapat saya ketahui saat listrik mulai menyala, beberapa kali di TV disiarkan bahwa gempa Bantul dan sekitarnya berkekuatan 5,9 SR yang berlangsung selama 55 detik. 55 Detik yang mampu menghilangkan nyawa lebih dari 6000 orang dan menghancurkan Bantul.

Kultur Yang Berubah

Gempa bumi sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat Bantul. Dulu tiap pagi saya selalu menjumpai iring-iringan orang bersepeda dari Bantul menuju Kota Jogja. Sore harinya pun begitu, mereka pulang dari pabrik atau tempat kerja mereka dari Kota Jogja menuju Bantul. Saya ingat, bantuan gempa justru malah menjadi kesempatan untuk memiliki kendaraan bermotor karena saat itu harga jatuh di titik murah.

Bangunan lama sudah sulit saya jumpai kini. Desain rumah tahan gempa membuat semakin banyak tembok keras yang dibuat. Rumah-rumah tradisional mulai ditinggalkan. Bantul menuju kota padat bahkan hingga kini. 

Pengaruh gempa terhadap ekonomi juga terasa bagi masyarakat yang dulu menggantungkan perekonomian pada institusi yang hidup saat sebelum gempa. Masyarakat sekitar STIE Kerjasama misalnya, harus mencari pekerjaan lain karena perguruan tinggi tersebut tutup total akibat hancur karena gempa. Rumah kos, warung makan, fotocopyan dan lain-lain harus merasakan sepi tiba-tiba.

Hal paling buruk dari bencana gempa bumi adalah trauma, seperti seorang teman saya yang harus kehilangan istrinya. Kesedihan selalu menghantuinya, apalagi masih harus membangun lagi sesuatu yang tiba-tiba hancur dan hilang. Beberapa orang yang tidak kuat menghadapi trauma memilih program transmigrasi untuk pindah ke daerah lain.

Gempa bumi 10 tahun lalu memang merubah Bantul dari segala arah. Seiring waktu, mau tak mau memang kita harus melupakan yang pahit dan terus melangkah menjadi lebih baik. Walaupun banyak perubahan yang sebagian orang tidak diharapkan namun hal itu adalah bagian dari proses yang tidak bisa kita hindari.



Bantul, 27 Mei 2016


Monumen Napak Tilas 10 Tahun Gempa Jogja. sumber foto: krjogja.com

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »