Yang Lawas di Bantul, Bakmi Jowo Robin Van Bejo

8/19/2016
Bantul itu surganya bakmi Jawa, yang padahal bakmi Jawa itu aslinya berasal dari Gunung Kidul. Entah kenapa setiap rata-rata 1 kilometer ada saja warung bakmi Jawa yang dapat ditemui di Bantul. Bakmi Jawa di Bantul itu juga soal selera. Bisa saja orang bilang bakmi Jawa A enak atau Bakmi Jawa B enak. Tapi lidah tiap orang dalam menikmati bakmi Jawa berbeda-beda. Maka dari itu, warung bakmi Jawa mulai berlomba-lomba untuk kembali "lawas" untuk menarik konsumennya. Karena lawas adalah esensi dari bakmi Jawa, menikmati bakmi Jawa dengan nuansa lawas adalah kenikmatan tersendiri.


Adalah pak Robin, pria asal Gunung Kidul yang membuka usaha warung bakmi Jawa-nya di jalan Parangtritis km. 8, tepatnya utara pertigaan Tembi. Tak sekedar "lawas" dalam artian cara mengolah bakmi Jawa namun lawas dalam konsep desain warungnya. Warung pak Robin berdinding dan bertiang kayu, tak lupa berbagai ornamen-ornamen tani dan tulisan Jawa bahkan serta langgam Jawa diputar melalui speaker menghiasi warung sederhananya.

Bakmi Jowo Robin Van Bejo

Pak Robin yang kadang dipanggil juga pak Bejo ini memang betul-betul totalitas dalam menyajikan menu masakannya. Demi membuat konsumen merasakan atmosfer desa, pak Robin sengaja menghilangkan unsur modern pada warungnya. Warung yang diberi nama Bakmi Jowo Robin Van Bejo ini mungkin awalnya terlihat modern dari namanya, namun warungnya sama sekali minim unsur kekinian.

Bakmi Jowo Robin Van Bejo

Bakmi Jowo Robin Van Bejo

Bakmi Jowo Robin Van Bejo

Saya setiap hari melewati warung milik pak Robin ini. Beberapa kali pula saya mampir untuk membelikan istri saya nasi goreng. Kata istri saya, nasi goreng pak Robin ini enak. Sayapun mengiyakan pendapat istri saya. Kenapa, karena porsinya pas. Kalau saya, sebuah hidangan lebih memilih porsi pas, tidak kurang dan tidak lebih. Nasi goreng pak Robin ini salah satunya, kombinasi nasi goreng yang sedap dan suwiran ayam kampungnya pas. Kalau soal bakmi Jawanya, saya lebih memilih opsi menggunakan telur bebek. Standar bakmi Jawa pak Robin memang menggunakan telur ayam. Jadi, jika pesan bakmi Jawa mintalah pak Robin menggunakan telur bebek agar rasa lebih nikmat.

Menu yang belum pernah saya coba di pak Robin hanya Cap Cay dan Rica-rica. Dan akhirnya suatu sore saya dapat waktu untuk mampir ke warung pak Robin lagi. Target saya kali ini adalah Cap Cay, sekaligus ingin mengabadikan nuansa lawas warung pak Robin. Saya datang selepas maghrib, warung pak Robin masih sepi kemungkinan baru buka dan saya mungkin juga pelanggan pertama yang datang. "Pak, Cap Cay dua, satu dibungkus dan satu makan disini".

Beberapa minggu ini memang saya lebih sering menyantap Cap Cay. Ada alasannya juga, saya sudah terlalu jarang menyantap sayuran makanya atas saran teman sering-sering pesan Cap Cay kalau makan diwarung dan warung tersebut ada menu Cap Cay. Kira-kira 10 menitan Cap Cay saya dimasak, maklum sepi sehingga cepat. Waktu sebelum Cap Cay datang di meja saya habiskan untuk motret sana-sini. Di warung awalnya hanya ada pak Robin dengan istri, tidak ada orang lain yang saya lihat. Baru kemudian anak pak Robin datang mengantarkan pesanan saya, yuk mulai santap.

Cap Cay Bakmi Jowo Robin Van Bejo

Cap Cap pak Robin ini terlihat masih segar. Pak Robin sepertinya tidak memasak terlalu lama agar sayuran-sayuran tidak layu. Cap Cay pak Robin benar-benar sehat, tidak ada kulit ayam yang saya temukan di menu Cap Cay pak Robin, walau pak Robin masih menggunakan potongan sosis sebagai penambah suwiran daging ayam kampungnya. Sambil menyantap saya melirik daftar menu dan harga yang tertempel di dinding, wah harganya sedikit diatas rata-rata. 

Daftar Menu Bakmi Jowo Robin Van Bejo

Cap Cay walaupun sumbernya berasal dari Cina tetapi tetap berbeda penyajiannya saat berada di beberapa wilayah di Indonesia. Pak Robin yang berasal dari Gunung Kidul ini hampir pure sayuran yang dimasak. saya mengistilahkan Cap Cay pak Robin ini adalah Cap Cay Gunung Kidul karena benar-benar kita menyantap sayuran. Saya pernah makan Cap Cay dari Surabaya yang orang biasa menyebutnya Suroboyonan, rasanya sangat manis dan ada sedikit kuah kental, saya menyebutnya Cap Cay nyemek. Toping di Cap Cay Suroboyonan itu macam-macam, ada rempelo ati, sosis, rolade, uritan. Lalu pengalaman makan Cap Cay di sebuah warung di Parakan, Temanggung yang penyajiannya ditambah dengan gandum yang digoreng (malah bisa disebut Cap Jaek sih) dan yang paling sering disantap ya Cap Cay asli Cina, yang pada umumnya ada potongan cumi atau udang diatasnya.

Terlepas dari masalah varian Cap Cay, menyantap hidangan di warung pak Robin begitu membuat saya larut dalam suasana desa, khususnya nuansa Gunung Kidul. Ornamen di warung pak Robin mungkin sengaja untuk menunjukan masa kecil pak Robin sendiri. Kandang sapi, bertani dan kebudayaan Jawa yang semakin hilang ditelan jaman. Jadi, kalau mau nostalgia atau mencari suasana lawas ayo ke Bakmi Jowo Robin Van Bejo di Bantul!

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
20 Agustus 2016 20.01 delete

Nuansanya Jogja banget Mas, eh iya..kalau Bakmi Kadin sekarang brp per porsinya..terakhir kalau ngga salah Th 2003 harganya sudah diatas 10rb..sekarang brp Mas..

Reply
avatar