Semangat Jenderal Sudirman Di Kayuhan Pesepeda Jogja

8/10/2016

Jogja tidak dapat dipisahkan dalam sejarah gerilya Jenderal Besar Sudirman dalam melawan penjajahan Belanda. Di Jogja inilah awal perjalanan gerilya yang legendaris tersebut berawal. Yang menjadi kisah penyemangat bagi pemuda-pemudi di Indonesia. Dan demi mengikuti jejak semangat seorang Jenderal Besar Sudirman. Puluhan pesepeda yang berasal dari berbagai komunitas sepeda di Jogja melakukan napak tilas rute gerilya sang Jenderal tersebut.



Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kabupaten Bantul ini berlangsung pada Minggu, 7 Agustus 2016. Acara bernama Gowes Napak Tilas Rute Gerilya Jenderal Sudirman ini adalah tahun kedua diadakan. Pada tahun 2015 lalu, gowes napak tilas berlangsung pada bulan November karena memeriahkan hari pahlawan yang jatuh pada bulan tersebut. Dan tentunya jika event ini diadakan pada bulan Agustus tentunya bertujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia.



Acara pada hari itu dimulai sejak pagi pukul 05.30. Peserta yang total berjumlah total 300an pesepeda mulai berdatangan dan melakukan daftar ulang. Untuk rute napak tilas dibagi menjadi dua kategori. Yang pertama adalah 17km+ dan yang kedua 100km+, walaupun sebenarnya kedua rute tersebut aslinya masing-masing kelebihan kilometernya masih lumayan jauh. Untuk 17km+ pada waktu sebelum start diwajibkan memakai jersey napak tilas yang dibagikan panitia saat daftar ulang. Kategori 100km+ baru wajib memakai jersey pemberian panitia saat start pada cek point terakhir mereka, sebelum itu mereka wajib memakai jersey masing-masing komunitas sebagai identitas.

Saat semua peserta dipastikan hadir maka tepat pukul 07.00 gowes napak tilas mulai start. Start ditandai dengan aba-aba bendera oleh Bupati Bantul Bapak Suharsono yang menyempatkan hadir dan memberi sambutan. Road Captain atau pemimpin paling depan di tempati oleh Mbah Kung Endy, pesepeda senior dari Basen Cycling Club (BCC) yang juga anggota dari beberapa komunitas pesepeda di Jogja. Saat aba-aba bendera dinaikan dengan sigap para peserta mengayuh sepedanya. Barisan paling depan adalah kelompok gowes 100km+ diikuti kelompok gowes 17km+.



Kayuhan sepeda dari start cukup kencang, karena peserta sudah panas sejak awal. Panitia sebenarnya sudah mewanti-wanti bahwa kecepatan maksimal adalah 25kpj tapi karena banyak peserta yang memakai sepeda tipe roadbike maka kaki mereka mungkin gatal jika gowes terlalu pelan. Saya mengikuti dengan santai saja bersama dengan beberapa komunitas yang sebenarnya belum terlalu kenal dengan mereka. Saya juga memang sengaja mengayuh dengan santai karena hanya ikut yang kategori 17km+ saja.

Rute awal kedua kategori sama yakni start Kantor Bupati, menuju perempatan Gose, belok kiri arah Gereja Ganjuran, lalu tembus ke jalan Parangtritis. Sampai di pintu gerbang pantai Parangtritis kami belok kanan menuju arah pantai Depok. Melewati pantai Depok, rute selanjutnya adalah arah pantai Parangkusumo. Di sepanjang perjalanan kami menikmati rimbunnya pohon cemara laut yang meneduhkan. Beberapa obyek wisata lain yang kami lewati adalah landasan paralayang pantai Depok, pantai Cemoro Sewu yang merupakan pantai baru dan Gumuk Pasir. Di Gumuk Pasir ini banyak pesepeda yang berhenti untuk berfoto dengan sepedanya, saya lanjut saja menuju parkir bus pantai Parangtritis yang menjadi tempat finish rute napak tilas kategori 17km+.


Sampai parkir Parangtritis para pesepeda istirahat sejenak. Bagi peserta kategori 17km+ disediakan sarapan, pisang dan air mineral, peserta 100km+ hanya asupan pisang dan air mineral. Beberapa peserta kategori 100km+ sebagian sudah melanjutkan perjalanan karena tidak ingin berlama-lama. Saya cukup lama beristirahat di tempat ini. Dalam sejarahnya pantai Parangtritis adalah tempat pertama dimulainya gerilya sehingga di tempat ini, tepatnya di seberang parkir bus Parangtritis terdapat Monumen Gerilya Jenderal Besar Sudirman. Monumen ini memiliki taman kecil dan bentuk monumennya sendiri berbentuk tiang tugu setinggi kira-kira 10 meter. Monumen ini adalah pengingat dimulainya perjalanan panjang seorang Jenderal untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia khususnya Tentara Indonesia masih ada dan masih berjuang.



Saya tidak ikut beberapa teman pesepeda yang memutuskan untuk mengikuti rute kategori 100km+ atau mengunjungi pantai dan bukit paralayang yang berada di dekat sana. Saya memutuskan pulang saja dengan segera karena hari semakin siang dan panas. Apalagi saat itu hari minggu tentunya banyak kendaraan yang melintas untuk menuju pantai Parangtritis. Bocorannya, tahun depan gowes napak tilas rute gerilya Jenderal Sudirman ini akan kembali digelar yang kemungkinan akan bertambah meriah fasilitasnya. Kita tunggu saja, jangan lupa ikut grup komunitas sepeda agar tidak ketinggalan infonya. Mari tularkan semangat Jenderal Sudirman di kayuhan sepeda.

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
12 Agustus 2016 13.20 delete

Aku mau nya di bonceng aja yessss

Reply
avatar