Belajar Keberagaman di Sop Empal Muntilan

11/23/2016
sop empal, empal, paru, bu haryoko, muntilan, sop empal bu haryoko muntilan

Sepulang dari berwisata di Punthuk Setumbu dan Rumah Doa Bukit Rhema saya bergegas ingin menenangkan perut yang mulai memberontak karena lapar. Inginnya saya, menyantap mangut beong legendaris Mbanglimus yang masih berada dekat dengan Candi Borobudur. Tapi kemudian saya berpikir, pagi-pagi kok makan pedas nanti perut bisa kaget. Mangut beong cocoknya buat makan agak siang atau makan siang sekalian.


Sembari menyetir pelan mobil Toyota Starlet, saya mencari referensi kuliner lain di daerah dekat-dekat sana. Pertama yang ketemu di pencarian saya adalah Sop Senerek, lah tapi kok di kota Magelang. Harus ngalor dong, makin jauh dengan jalur pulang. Yo wes saya coba cari tempat lain kali ini dengan query daerah Muntilan. Dan pencarian teratas saya adalah warung sop empal Bu Haryoko. Wah empal, sedap sepertinya. Tak apalah gigi saya saat itu sedikit agak sakit. Saya tak khawatir seliliten, wong empal itu jelas makanan super enak yang sayang untuk dilewatkan.

Warung Sop Empal Bu Haryoko ini berada di jalan Veteran, Muntilan. Kalau dari arah Jogja, belok kanan pada jalan satu arah sebelum Klenteng Hok An Kiong. Warung Bu Haryoko berada di pinggir jalan tidak jauh dari jalan utama Jogja-Muntilan. Kalau dari arah kota Magelang, kita harus tetap berputar arah yang jalur paling cepatnya adalah berbelok di dekat Kantor Pos Muntilan lalu menuju arah klenteng Hok An Kiong juga.

Parkir kendaraan di warung sop empal bu Haryoko tergolong lenggang karena jalan di depan warung adalah jalan satu arah. Saat saya kesana, sudah berjejer mobil-mobil yang tentunya penikmat sajian sop empal Bu Haryoko. Namun parkir di jalan depan warung sop empal bisa juga berbahaya karena berada di jalur truk-truk pengangkut pasir yang lewat menuju jalan alternatif Ketep Pass. Pokoknya pepetkan kendaraan Anda jangan terlalu sembrono agar tidak kena serempet.

Masuk ke warung saya langsung menuju seorang ibu berjilbab yang sedang berteriak setengah kencang sembari menyuruh-nyuruh untuk mengantar pesanan sop empal. Ah itu pasti owner warung empal ini, Bu Haryoko. "Bu, pesen sop empal kalih njih" (Bu, pesan sop empal dua ya). Omongan saya hanya ditimpali kata "Njih" tegas terkesan galak. Bu Haryoko tersebut lalu melanjutkan keasikannya tunjuk sana tunjuk sini. Saya menjadi gentar untuk bertanya apa menu lain selain sop empal walaupun sebenarnya penasaran. Warung sop empal saat itu ramainya sudah seperti pasar. Salah omong saat Bu Haryoko sedang sibuk, bisa-bisa pesenan saya dapat dipending biar lama menunggunya. Oh Tuhan maafkan su'udzon saya ini.

Satu keluarga beranjak pergi seusai menyantap sop empal, saya menggantikan mereka untuk duduk bersama istri dan anak. Sejenak kemudian saya memandang sekitar, "Woh jebule Cino kabeh" (Wah, ternyata Tionghoa semua). Saya terheran-heran hampir semua penikmat warung sop empal saat itu rata-rata adalah Tionghoa. Saya kira lidah Tionghoa hanya menyukai olahan masakan dari etnisnya sendiri ataupun yang mendekati. Ternyata, Bu Haryoko menyatukan lidah Jawa dan Tionghoa melalui sop empalnya. Bahkan demi sepiring sop empal Bu Haryoko, beberapa warga Tionghoa rela sedikit diberi suara cerewet Bu Haryoko karena terlalu riuh dan lama dalam memesan hidangan.

Muntilan memang daerah yang penuh keberagaman. Komunitas Katolik Jawa berbasis di daerah Muntilan ini, terkenal dengan beberapa sekolah-sekolahnya. Warga Tionghoa Muntilan lumayan besar sehingga klenteng di Muntilan selalu ramai dan meriah. Cobalah ke Muntilan saat tahun baru Cina, daerah ini berubah menjadi penuh pernak-pernik Tionghoa berikut dengan kemeriahannya. Untuk warga muslim, jangan lupakan makam Kyai Raden Santri Gunungpring yang selalu diziarahi orang dari berbagai daerah setiap harinya. Konon kabarnya juga, NU dan Muhammadiyah di Muntilan bersaing dalam syiar agama. Namun selama ini tidak pernah ada konflik agama terjadi di Muntilan. Mau menjadi radikal di Muntilan adalah hal yang sangat mustahil.

Kembali ke sop empal. Sop empal yang ditawarkan Bu Haryoko hanya sepiring kecil. Empal Bu Haryoko memiliki tekstur empuk dengan rasa manis. Saat menggigitnya akan dijumpai serat-serat daging dengan berkualitas yang dimasak dan dibumbui secara totalitas. Sambal yang mengiringi empal dibuat untuk meneteskan keringat pada kening karena pedasnya yang tak akan kita lupakan. Namun esensi sebenarnya sop adalah kuahnya. Pertama menyantap kalian pasti akan heran atas kesederhanaan kuah sop yang hanya berisi sejimpit bihun dan kol yang takarannya seadanya. Namun sop sederhana ini justru yang membuat empal menjadi lebih dikenang kelezatannya. Walaupun kuah sop sebenarnya mengingatkan saya dengan menu rumahan yang ngangeni.

Sop empal sepertinya menjadi telah menjadi media pluralisme. Saat menyantapnya, siapa saja yang berada di dalam warung seperti tidak punya etnis dan agama. Hanya seorang manusia biasa. Tidak ada ewuh-pakewuh di warung sop empal Bu Haryoko, semua melebur menjadi satu di dalam warung, semua berbagi meja untuk bersantap. Sepertinya Bu Haryoko yang muslim ini patut dianugerahi penghargaan selayaknya nobel perdamaian. Hanya dengan sepiring kecil empal empuk dan sop yang berisi sedikit bihun serta kol mampu mendamaikan ruwetnya masalah pluralisme di Indonesia.

Saya satu meja dengan Tionghoa beragama nasrani. Mereka menyapa ramah saya menanyakan apakah sisi sebelah meja yang saya duduki kosong. Mereka lalu duduk setelah saya berkata iya bahwa tempat duduk tersebut kosong. Saya dan mereka tidak canggung, saya yang Jawa mereka yang Tionghoa. Mereka jelas tahu bahwa saya muslim karena istri saya yang berjilbab. Mereka berdoa sebelum menyantap hidangan tanpa beban ewuh-pekewuh. Mengobrol dengan saya karena sama-sama memiliki anak balita. Pluralisme ternyata ada di sop empal Muntilan. Ah andaikan Indonesia bisa seperti Muntilan.

Saya bergegas pulang setelah puas menyantap sop empal yang maknyus seperti kata Bondan Winarno yang pernah mampir di warung ini. Anak saya gampang bosan jika berlama-lama di suatu tempat dan warung juga semakin siang semakin ramai. Saya menjadi belajar toleransi karena tidak enak jika membiarkan orang lain yang ingin menikmati sop empal berdiri lama menunggu meja kosong. Jangan khawatir soal harga seporsi sop empal ini, harganya masih dalam taraf wajar. Saya tentunya masih berencana ke warung ini lagi karena mendapat bocoran menu lain selain sop empal dari keluarga Tionghoa yang semeja dengan saya yang sepertinya tak kalah maknyus.

sop empal, empal, paru, bu haryoko, muntilan, sop empal bu haryoko muntilan

sop empal, empal, paru, bu haryoko, muntilan, sop empal bu haryoko muntilan

Artikel ini pernah dipublikasikan di BasaBasi.co

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »