DGD, Karya Terbaru Persembahan PT Aseli Dagadu Djokdja

12/25/2016
DGD, Karya Terbaru Persembahan PT. Aseli Dagadu Djokdja

Jumat malam (23/12/2016) saya menghadiri soft launching karya terbaru dari PT. Aseli Dagadu Djokdja. Karya baru tersebut bernama DGD, sebuah brand yang terlihat premium dengan konsep global yang terpadu dengan kearifan lokal. Outlet DGD ini berada di dalam Lippo Plaza Jogja tepatnya di lantai GF yang strategis. Kedepannya selain outlet fashion, terdapat mini kafe di outlet DGD ini.

Dalam soft launching di Smart Lounge Lippo Plaza Jogja tersebut tidak hanya menghadirkan A. Noor Arief sebagai otak kreativitas dari PT. Aseli Dagadu Djokdja namun juga turut menghadirkan Kadek Arini seorang travel bloger dan Paksi Raras, seorang penyiar radio dan salah satu anggota grup musik bernama Mantradisi.

DGD, Karya Terbaru Persembahan PT. Aseli Dagadu Djokdja

Acara soft launhing yang dibalut dengan talk show dan live performance dari Indonesian Fingerstyle Guitar Community (IFGC) ini memang bukan satu-satunya acara saat itu. Sebelum talk show yang menjadi puncak acara perkenalan DGD, telah diadakan mini workshop, sayang saya tidak dapat menghadirinya. Namun tetap saja saya juga menikmati diskusi hangat serta terpukau begitu kerennya IFGC memainkan jari pada gitarnya.

DGD, Glocal Thinking

Glocalization atau sering disebut juga dengan Glocal, biasa diartikan "Think Global, Act Local". Yang dalam melakukan aksi lokal, banyak hal yang dapat menjadi motor penggeraknya. Seperti kreativitas, sensitivitas terhadap teknologi, multitude perspective. Itu adalah beberapa modal untuk memacu glocal.

Saat membicarakan lokalitas, yang sering terbesit dalam pikiran adalah muatan kedaerahan. Tidak salah memang. Karena lokalitas (localty) adalah konsep umum berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Namun dalam konteks budaya, lokalitas bergerak secara dinamis, meski kerap lokalitas budaya diandaikan tidak dapat lepas dari komunitas kultural yang mendiaminya, termasuk di dalamnya persoalan etnisitas.

Indonesia sangat kaya untuk alam, budaya dan peninggalannya. Hidup di Indonesia berarti memiliki segala sumber daya yang dapat menjadi suatu inspirasi. Saat PT. Aseli Dagadu Djokdja berbicara mengenai lokalitas, maka terciptalah brand DGD, suatu brand premium yang dengan bangga bercerita tentang lokalitas di Indonesia.

Dengan mengusung tagline Nature, Culture, Nurture, DGD bercerita tentang lokalitas Indonesia sebagai suatu harta karun (treasure) yang selalu membuat penasaran untuk digali dan dikaji. Tema tentang alam dan budaya tercipta untuk disemaikan kepada generasi muda urban, ini fokus DGD. Konsep inilah yang kemudian menjadi kekayaan brand fashion yang memuaskan anak-anak muda urban.

Menggunakan multiple perspective, DGD mencoba menerjemahkan dan menginterprestasi ulang ikon, simbol, dan nilai lokalitas dalam bahasa visual yang tentunya kekinian. Olah visual tersebut berpijak pada tradisi yang diolah secara progresif.

Desain yang tersaji adalah DNA dari kekayaan alam dan budaya Indonesia yang tersebar dari barat sampai dengan timur, utara sampai dengan selatan, seluruh kepulauan nusantara. Contoh saat mengangkat desain fauna Indonesia, DGD memunculkan badak, orang utan, dan komodo dalam seni origami. Binatang-binatang tersebut mengesankan desain simple nan modern, khas origami, seni melipat kertas ala Jepang.

Akhirnya inilah DGD, satu karya terbaru persembahan PT. Aseli Dagadu Djokdja.

DGD, Karya Terbaru Persembahan PT. Aseli Dagadu Djokdja

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »