Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

5/05/2017
Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

Irwan Bajang namanya, atau biasa dipanggil Bajang saja. Seorang pemuda asal Lombok yang merantau di Jogja. Usianya baru sekitar 29 tahun, namun apa yang dilakukan oleh pemuda yang hobi menulis ini sangat begitu luar biasa. Ia menularkan virus menulis melalui usaha penerbitan buku dan kelas menulis yang ia dirikan. Ia berkeliling ke beberapa sekolah, kampus dan komunitas untuk memberikan workshop tulis-menulis secara gratis. Jejak perjalanannya dapat kita saksikan pada sebuah tempat bernama Dongeng Kopi & Indie Book Corner.

Dongeng Kopi adalah sebuah kedai kopi di bilangan Condongcatur, Depok, Sleman. Berada di pinggir ringroad yang padat, Dongeng Kopi seperti pemberhentian untuk melupakan kebisingan perkotaan -- walau masih berada di tengah perkotaan. Menu-menu kopi di Dongeng Kopi memang menyejukan, seperti beberapa jenis kopi coldbrew yang ditawarkan. Salah satunya, yang bernama apple coldbrew dapat membuat saya jatuh cinta pada sesap pertama di kedai ini.

Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

Indie Book Corner adalah nama usaha penerbitan buku indie yang didirikan oleh Bajang. Lokasinya menjadi satu dengan Dongeng Kopi sehingga Bajang dan rekan-rekannya di kedai kopi sepakat menamai usaha mereka dengan Dongeng Kopi & Indie Book Corner. Suasana literasi memang kental di Dongeng Kopi & Indie Book Corner. Meja barista sejajar dengan toko buku kecil di sampingnya. Buku-buku di toko bernama "Toko Budi" ini akan membuatmu senang. Karena beberapa genre yang tidak ada di toko buku besar, hadir di Toko Budi ini. Seakan mengingatkan kembali bahwa Indie Book Corner adalah penerbit yang berani mengambil resiko menerbitkan buku-buku yang melawan arus.

Alasan rekan-rekan sesama penulis yang ditolak naskahnya oleh penerbit tempat Bajang bekerja saat itu membuat Bajang terbesit ide untuk mendirikan penerbitan sendiri. Itulah kenapa Bajang menerima buku-buku melawan arus yang mengarah kontroversial. Bahkan saking kontroversialnya seperti dicetaknya buku biografi Aidit, tokoh utama Partai Komunis Indonesia membuat Dongeng Kopi & Indie Book Corner pernah distroni oleh suatu ormas agama. Negara yang memang seharusnya menjaga asa kebebasan berpendapat membuat Bajang tidak ciut nyali. Bajang tetap dengan Indie Book Corner-nya.

Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

Walaupun kebanyakan buku yang diterbitkan Indie Book Corner memang genre yang "tidak pantas" ada di toko buku namun belum tentu buku indie tidak berkualitas. Sebut saja buku Sejarah Estetika, buku ini termasuk buku terlaris yang diterbitkan oleh Indie Book Corner bahkan dicari-cari oleh banyak orang sebagai sebuah kitab suci. Padahal di toko buku, mungkin saja buku seperti Sejarah Estetika tersebut minim peminat. Memang sebuah buku laris harus benar-benar menemukan tempat yang tepat untuk menerbitkannya.

Atas usaha Bajang sejak 2009 saat pertama kali mendirikan Indie Book Corner. Bajang dikejutkan dengan diumumkannya dia sebagai salah satu nominasi penerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2014. Bajang bercerita hingga kini tak pernah tahu siapa yang mendaftarkan dirinya. Kemudian hasil akhir menempatkan Bajang sebagai pemenang SATU Indonesia Awards dalam bidang pendidikan atas usahanya memberikan pendidikan tulis-menulis melalui Dongeng Kopi & Indie Book Corner.

Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

Mengunjungi Bajang, Si Penular Virus Menulis

Saat saya berkunjung pada Kamis (27/4/2017) minggu lalu sebagai salah satu rangkaian kegiatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Jogja, Dongeng Kopi & Indie Book Corner juga sedang diadakan pelatihan menerbitkan buku. Pelatihan-pelatihan di Dongeng Kopi & Indie Book Corner diberi nama Independent School oleh Bajang. Tema pelatihan hari itu adalah membuat sampul buku. Sangat menarik, dimana kedai kopi tidak hanya menjadi tempat berkumpul namun menjadi tempat dimana kemampuan literasi diasah untuk mengembangkan bakat tulis-menulis. Luar biasa Bajang, tidak salah jika mendapat apresiasi SATU Indonesia Awards.

Tabik.

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
5 Mei 2017 22.23 delete

baru kali ini dengar istilah buku indie, maklumlah saya bukan penikmat buku,,, membaca tulisan ini, saya malah tertarik dengan kata2 yang diulang beberapa kali, "buku melawan arus, buku tak pantas, buku kontroversial", saya masih belum tau buku yg dimaksud ttg apa.

sekilas tentang tokoh utama PKI, anggap saja itu sebuah bigrafi, toh ga kontroversi kan?

Reply
avatar
6 Mei 2017 05.38 delete

Mantap sekali mas,, itu bagaikan surganya seorang penikmat sastra yang suka menulis dan kedai kopinya pas banget,..

untuk read and drink seperti saya wah itu tempat yang pengin sya kunjungi,,

btw mas bajang ko saya baru denger yaa.? apa saya kurang literasi hihi

Salam mas NUfus M Zaki

Reply
avatar
12 Mei 2017 08.07 delete

Tergantung juga sih, ada juga yang dikit2 emosi hehehe

Reply
avatar
12 Mei 2017 08.07 delete

Hahaha, coba googling Irwan Bajang mas

Reply
avatar