Hangatnya Wedang Tahu Bu Kardi

1/31/2017
Hangatnya Wedang Tahu Bu Kardi

Sabtu pagi saat itu tidak seperti biasanya karena hari itu bertepatan dengan tanggal merah (Imlek) yang berarti kemacetan di kota Jogja yang notabene selalu diserbu jika libur panjang. Saya yang pagi itu menuju daerah Poncowinatan untuk melihat kemeriahan Imlek cukup merasakan keramaian jalan raya. 

Tepat pukul 08.00 pagi saya sampai di klenteng Poncowinatan, padahal saya dari rumah sekitar pukul 7.00 pagi. Langsung saja saya masuk ke dalam klenteng untuk mengabadikan prosesi ibadah warga Tionghoa. Tidak banyak yang dapat saya abadikan dengan kamera karena ternyata prosesi perayaan Imlek di klenteng tersebut telah dilakukan sehari sebelumnya.

Saya kemudian bersiap menuju klenteng Gondomanan. Sebelum kesana saya berpikir enaknya mungkin menyantap sesuatu dulu karena saya belum sempat sarapan. Sebelum sampai di klenteng Poncowinatan saya teringat sempat melihat gerobag kecil penjual wedang tahu di depan gudeg Bu Djuminten jalan Kranggan. Wah, tanpa pikir panjang saya lalu mengarahkan motor saya kesana.

Beberapa pembeli masih memadati wedang tahu yang saya datangi ini. Penjualnya bernama Bu Kardi, usianya kira-kira hampir sama dengan Ibu saya. Beberapa panci yang menjadi wadah dari wedang tahu telah terlihat kosong. Bu Kardi juga sibuk menuangkan kuah ke dalam wadah besar.

Saya lalu berkata ke Bu Kardi pesan 1 mangkuk wedang tahu. Saya menunggu sekiranya 5-10 menit karena Bu Kardi masih melayani pembeli yang lebih dulu datang dan kebetulan kuah ternyata habis sehingga saya diminta menunggu agar kuah sedikit lebih panas. Ternyata selama di dalam gerobag, kuah selalu dipanaskan oleh Bu Kardi.

Akhirnya pesanan saya datang. Semangkuk penuh wedang tahu yang terbuat dari sari kedelai. Tahu yang biasanya kita jumpai dalam bentuk gorengan disulap oleh Bu Kardi menjadi semacam minuman. Teksturnya lembut hampir mirip agar-agar yang belum sempurna jadi namun tidak pecah. Kuah yang disiramkan memberikan rasa manis pedas di lidah dan hangat di tenggorokan karena terbuat dari campuran gula dan jahe.

Saya masih belum terbiasa sebenarnya menerima kuah wedang tahu yang menurut saya terlalu hangat di tenggorokan. Mungkin karena saya belum sarapan ya. Di depan wedang tahu sebenarnya sudah cocok karena ada warung gudeg Bu Djuminten. 

Hangatnya Wedang Tahu Bu Kardi

Bu Kardi menjual wedang tahu ini mulai pukul 6.30 pagi dan akan habis sekitar pukul 9.00 atau 10.00 pagi. Ada tiga cabang sebenarnya kata Bu Kardi namun konsumennya lebih senang datang ke yang di Kranggan ini karena lokasi yang nyaman dan tidak ramai kendaraan.

Karena sudah habis semangkuk saya segera melakukan pembayaran ke Bu Kardi. Bu Kardi ini orangnya santai dan ramah, sempat saya ditawari untuk nambah. Saya tolak karena harus segera melanjutkan ke klenteng Gondomanan. Saya diminta membayar hanya Rp 6.000 saja untuk kehangatan di pagi hari itu. Teman-teman yang liburan ke Jogja dan kebetulan berwisata kuliner di daerah Kranggan, wajib coba wedang tahu ini.

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

10 komentar

Write komentar
31 Januari 2017 16.22 delete

Penasaran banget sama rasanya. Daripada mbayangke mending kapan2 mampir ah kalo ke Jogja. :D

Reply
avatar
31 Januari 2017 18.51 delete

Waiki! Kudu dijajal. Tombo kangen.

Reply
avatar
31 Januari 2017 23.01 delete

Mirip tahok. Atau emg sama, beda nama aja. Pankapan hrs coba, bandingin 😂

Reply
avatar
1 Februari 2017 07.56 delete

Mirip wedang jahe dikasih ager-ager

Reply
avatar
1 Februari 2017 07.57 delete

Ih nyama-nyamain nama.. enak aja...

Reply
avatar
1 Februari 2017 08.34 delete

penasaran banget dengan rasanya ....

Reply
avatar
1 Februari 2017 09.26 delete

kuahnya rasanya manis ato gmn mas? penasran blm pernah nyoba :D

Reply
avatar
2 Februari 2017 06.11 delete

Di jakarta udah jarang ada orang jual kembang tahu keliling, kalo pengen kembang tahu mesti ke glodok ihik ihik

Reply
avatar