Kecewa Dengan Wajah Baru Pasar Ngasem

5/16/2017
Kecewa Dengan Wajah Baru Pasar Ngasem

Sudah beberapa tahun saya tidak berkunjung ke Pasar Ngasem Yogyakarta walau terkadang sering melewatinya. Pasar Ngasem kini telah berubah wajah. Dulu pasar Ngasem adalah sentra pasar burung terkenal di Yogyakarta.

Berbagai jenis burung dan hewan peliharaan dipasarkan di pasar ini. Pasar ini juga ramai karena menjadi pintu gerbang Istana Air Tamansari dari utara. Karena penataan kota, pada tahun 2010 pasar ini dipindah ke lokasi baru yang bernama Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY). Lokasi PASTY sebenarnya berada cukup jauh dari lokasi Pasar Ngasem.

Walaupun proses perpindahan pedagang terbilang lancar. Namun saya sebagai warga lokal cukup menyayangkan perpindahan pasar yang sudah ikonik ini. Mengingat pasar burung Ngasem sudah ada sejak tahun 1809 yang berarti nilai historisnya sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan catatan dokumen foto yang menggambarkan pedagang dengan burung dagangannya.

Pasar Ngasem tak hanya favorit bagi pecinta burung semata. Banyak turis yang juga sering berkunjung ke tempat ini. Pesona Istana Air Tamansari memang juga menjadi daya tarik untuk berkunjung ke Pasar Ngasem. Saya masih ingat dulu semasa sekolah jika ke Tamansari selalu melalui Pasar Ngasem karena aksesnya yang lebih indah. Saat itu bangunan Istana Air Tamansari masih kokoh berdiri dan bisa dinaiki sampai atapnya. Kita dapat melihat landscape kota Yogyakarta dari atas.

Gempa bumi 2006 memang kemudian merubah pandangan pemerintah untuk lebih memperhatikan Istana Air Tamansari. Salah satu upayanya adalah memindahkan Pasar Ngasem agar wisatawan yang berkunjung ke Istana Air Tamansari masuk dengan sistem satu pintu saja. Efek gempa menghancurkan sebagian bangunan di sisi utara. Dan kondisi tersebut dapat lebih parah jika terjadi penumpukan pengunjung dari Pasar Ngasem.

Dan baru 2010 realisasi perpindahan pedagang dilakukan. Dan di tahun itu juga Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) dibuka secara resmi. Pada awal-awal penutupan Pasar Ngasem dan pembukaan PASTY memang masih saja ada pedagang yang tidak rela pindah, namun akhirnya sekarang PASTY menjadi sentra baru untuk mencari burung dan hewan peliharaan lain serta tanaman hias di Yogyakarta. 

Pasar Ngasem yang ditinggalkan lalu diubah wajahnya. Hampir separuh lebih bekas lahan direstorasi menjadi sebuah plaza yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas dan kegiatan terutama yang berkaitan dengan seni dan budaya. Separuh lahan Pasar Ngasem tetap dipertahankan sebagai pasar namun khusus untuk pedagang tradisional. Karena pedagang-pedagang tradisional dianggap masih layak untuk mendukung keberadaan wajah baru Pasar Ngasem.

Menariknya pedagang tradisional di Pasar Ngasem sekarang ini malah lebih ramai dengan wajah baru Pasar Ngasem. Semakin banyak pengunjung yang datang. Para pembeli bukan hanya masyarakat sekitar namun juga pengunjung bahkan turis. Mereka begitu menikmati suasana tradisional yang ditawarkan. Apalagi beberapa pedagang juga menggelar lapak kuliner dan oleh-oleh khas Yogyakarta.

Contoh kegiatan yang bertempat di Plaza Pasar Ngasem adalah Indonesia Community Day (ICD) yang berlangsung hari Sabtu (13/05/2017) lalu. Dengan menghadirkan 27 komunitas yang berasal dari seluruh Indonesia, acara ICD ini sukses menginspirasi pengunjung yang hadir. ICD yang digagas oleh Kompasiana dan Tribun Jogja ini memang ditujukan untuk mengenalkan komunitas-komunitas yang inspiratif.

Kecewa Dengan Wajah Baru Pasar Ngasem
Kecewa Dengan Wajah Baru Pasar Ngasem

Kecewa Dengan Wajah Baru Pasar Ngasem

Kecewa Dengan Wajah Baru Pasar Ngasem

Walaupun sebenarnya sedikit ada rasa kecewa karena perubahan wajah Pasar Ngasem yang tidak seperti dulu. Namun karena pertimbangan alasan agar Pasar Ngasem dan Istana Air Tamansari dapat lebih tertata dan terjaga, tentu saja saya harus tetap mendukung Pasar Ngasem dengan wajah barunya kini. 

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
16 Mei 2017 19.24 delete

Menurutku kalo akses ke tamansari diutamakan mask dr pasar ngasem, malah menjadi semakin menarik mas. Soalnya harus melewati terowongan kan.
Juga menambah pamor pasar ngasem itu sendiri bagi wisatawan. Setauku malah sedikit wisatawan yg mampir ke pasar ngasem untuk kuliner.

Reply
avatar
16 Mei 2017 21.25 delete

belum pernah ke pasar ngasem sepertinya walaupun beberapa kali singgah ke yogyakarta, nice info

Reply
avatar
17 Mei 2017 00.36 delete

Dulu pernah tinggal di Jogja cukup lama dan enggak begitu memperhatikan pasar ngasem ini. Kebetulan beberapa waktu lalu main ke Jogja danj lagi ada event di Pasar Ngasem. Belok bentar buat liat Symphoni Kerontjong Moeda, tapi malah nonton sampek kelar.

Mungkin kadang emang perubahan itu membuat kita kecewa, tapi ya mau bagaimana lagi, bukankah semua juga akan berubah pada saatnya? hehe diambil sisi positifnya saja mas

Reply
avatar
17 Mei 2017 08.20 delete

Pintu masuk utama memang bukan dari Ngasem mas.. Dulu kalau mau ke bangunan yg ada di Ngasem para putri raja memang harus tetap lorong bawah tanah itu

Reply
avatar
17 Mei 2017 08.23 delete

Sekalian agendakan ke Istana Air Tamansari mas

Reply
avatar
17 Mei 2017 08.24 delete

Iya namun sangat disayangkan karena pasar burung udah ada sejak abad 18

Reply
avatar
26 Mei 2017 10.56 delete

Aku pas kecil suka ke sini buat beli ikan, sampai-sampai aku tahunya Ngasem itu pasar ikan, bukan pasar burung, wkwkwk

Reply
avatar
3 Agustus 2017 21.31 delete

aku dulu juga taunya pasar ngasem itu pasar burung sampe ada gambar plesetan ala dagadu tentang cuaca jogja yang menggambarkan Pasar Ngasem itu Hangat-hangat tai ayam.

tapi pas kuliah di jogja, belum pernah main ke Ngasem sebagai pasar burung. hiks. mainnya pas udah jadi plasa

Reply
avatar