Mencoba Sepeda Unik Dari Bambu Asal Temanggung

3/15/2016
Akhir September 2015 saya diajak pak Eko Eshape seorang pesepeda dari grup Jogja Gowes untuk ikut menjemput seseorang yang spesial. Orang tersebut adalah Singgih Susilo Kartono, seorang pesepeda dan pengrajin kerajinan bambu dari dusun Kandangan, Temanggung. Pak Singgih akan menguji coba sepeda buatannya yang dia buat dari bambu menuju Jogja. Perjalanan beliau dimaksudkan untuk menjajal seberapa kuat dan tangguh frame sepeda bambu yang dia buat sebelum dipasarkan.



Sebenarnya saya ketinggalan untuk menjemput pak Singgih. Pak Eko dan mas Bagus Abdurrahman Wahid sudah terlebih dulu tiba di jembatan krasak perbatasan Jogja-Magelang untuk menanti pak Singgih. Beruntung pak Singgih ternyata berhenti untuk sarapan sehingga saya bisa menyusul mereka berdua. Dan karena juga belum sarapan kami bertiga mampir ke warung Ijo bu Padmo untuk menyantap brongkos legendaris di warung tersebut, terimakasih pak Eko atas traktirannya hehe.

Pukul 8.30an, pak Singgih tiba juga dan langsung menuju warung bu Padmo tempat kami menunggu. Tak perlu waktu lama kami lalu bergegas bergerak menuju Jogja. Pak Singgih ditemani seorang teman dari Temanggung. Mereka sama-sama menggunaka sepeda bambu yang diberi nama "Spedagi", frame keduanya hampir mirip hanya groupset yang disematkan berbeda. Pak Singgih bilang sedikit mengalami kendala pada rantai yang sering terlepas dalam perjalanan, selain itu sampai jembatan krasak sepeda bambu tersebut masih cukup tahan uji.

Mas Bagus menjadi marshall untuk perjalanan dari warung bu Padmo menuju Jogja, pak Eko dan saya berada di belakang. Perjalanan cukup mudah karena jalan Magelang relatif menurun, tidak ada kendala berarti hanya jalan cukup padat saat mendekat perempatan kantor menuju kantor bupati Sleman. Mas Bagus memutuskan untuk belok arah ke timur melewati jalan Palagan agar jalan lebih lancar, lagi-lagi perjalanan cukup mudah karena jalan menurun.

Sampai kota Jogja kami singgah sebentar di Tugu Jogja. Disini kami melakukan ritual wajib foto bersama, karena hari sudah semakin siang dan panas kami lanjutkan perjalanan untuk menuju tujuan akhir. Perjalanan kami berakhir di kampung Siliran dekat dengan alun-alun selatan Jogja. Istirahat sejenak kami banyak ngobrol dan membagi tips untuk bersepeda. Tak lupa saya mencoba sepeda bambu Spedagi buatan pak Singgih tersebut. Dua-duanya saya coba, rata-rata memang kalau belum terbiasa akan terasa sedikit goyang. 


Sepeda bambu pak Singgih menarik dan unik, namun walaupun frame berbentuk sepeda MTB tapi saya pikir sepeda ini lebih cocok untuk kontur jalan perkotaan. Walaupun kata pak Singgih sepeda ini cukup kuat tapi kalau saya punya sepeda ini sayang jika retak atau tergores, kalau tidak dipakai kan bisa untuk pajangan ruang tamu yang keren.


Karena ada acara yang harus saya ikuti saya berpamitan dahulu kepada mereka untuk pulang. Sayang karena masih banyak yang ingin saya tanyakan dan siapa tahu dapat diskon untuk beli frame sepeda bambu tersebut hehe. Selain sepeda bambu pak Singgih juga memproduksi radio bambu yang dia beri nama Magno, dan katanya sudah mendunia serta beliau juga memiliki kebun kopi khas Temanggung yang  saya diberi kesempatan untuk mencicipi, saya diberi sebagai buah tangan karena ikut mengiringi ke Jogja, terimakasih pak Singgih.

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »