Kembul Bujono di Puncak Tidar

2/08/2017
Kembul Bujono di Puncak Tidar

Tidar, sebuah nama yang identik dengan kota Magelang. Saya selalu penasaran dengan sebuah gunung yang menyambut kita saat melewati kota Magelang. Gunungnya memang tidak terlalu tinggi namun sangat subur dengan pohon-pohon hijau yang menjulang. Konon katanya, gunung Tidar ini diberi julukan pakunya tanah Jawa. Banyak kisah yang menyertainya, syiar agama hingga mistis bahkan presiden Jokowi pernah disebut-sebut menyendiri di puncaknya sebelum menjadi pemimpin negeri ini.

Arah laju motor saya mengarah ke barat Akademi Militer Magelang. Google Maps menuntun saya menuju hotel yang menjadi titik kumpul beberapa blogger yang akan mengikuti prosesi Ruwat Bumi Gunung Tidar. Prosesi ruwat bumi di gunung Tidar baru pertama kali dilaksanakan namun festivalnya, yang bernama Festival Tidar. Sudah kedua kalinya dilaksanakan. Ruwat bumi di gunung Tidar memang diharapkan lebih mengenalkan gunung Tidar, tidak hanya sebuah nama atau simbol saja.

Setelah ibadah sholat Jum'at akhirnya rombongan diberangkatkan menuju gunung Tidar yang hanya berjarak 10 menit dari hotel. Sampai disana acara pas akan dimulai. Rombongan yang akan melakukan kirab telah bersiap. Mereka mengusung tumpeng, ingkung ayam, sayur mayur, lauk pauk, hasil bumi dan lain-lain. Mereka berdandan layaknya masyarakat Jawa jaman dahulu. Termasuk yang hadir dalam kirab adalah jajaran pejabat pemerintah kota Magelang.

Gunung Tidar hanya setinggi sekitar 500an mdpl. Iya, "hanya" 500an mdpl, namun ternyata cukup membuat saya berkali-kali mengambil napas di beberapa titik istirahat pada tangga tanjakan gunung Tidar. Saya naik bersama kira-kira 300an orang peserta kirab dan warga yang akan menyantap ubo rampe yang dibawa menuju puncak gunung Tidar. Di puncak gunung Tidar sana, kita akan bersama-sama Kembul Bujono. 

Kembul Bujono di Puncak Tidar

Kembul Bujono di Puncak Tidar

Kembul Bujono di Puncak Tidar

Kembul Bujono adalah makan bersama. Makan bersama semua yang hadir di puncak gunung Tidar. Hidangannya adalah semua yang dibawa dalam prosesi kirab. Sebelum acara kembul bujono ini dimulai, yang hadir disuguhi tarian Caraka Walik. Tarian lembut yang dimainkan oleh 5 orang perempuan. Makna dari tarian ini adalah untuk menghilangkan Sukerta atau keburukan, khususnya yang ada di kota Magelang.

Kembul Bujono kemudian dimulai, saya ditawari mengambil hidangan yang disajikan oleh beberapa perwakilan peserta kirab yang berasal dari kelurahan dan kecamatan di kota Magelang. Akhirnya rombongan ibu-ibu entah saya lupa mereka berasal dari kelompok mana yang saya pilih untuk didatangi. Dengan media pincuk saya mendapatkan sego gurih (nasi uduk) dengan lauk pauk komplitnya. Walaupun sebelumnya sudah makan di hotel, tentu saja saya masih tetap sanggup lahap menyantapnya.

Kembul Bujono di Puncak Tidar

Kembul Bujono di Puncak Tidar

Beberapa anak kecil berlarian kesana kemari untuk menjajal variasi sajian yang dibawa peserta kirab, luar biasa mereka ini karena saya satu saja sudah cukup kenyang. Selesai menyantap saya berkeliling di puncak gunung Tidar. Di puncak ada 2 monumen yang berupa tugu. Yang pertama adalah tugu penanda puncak gunung Tidar yang tinggi menjulang dan yang kedua adalah tugu bertuliskan Sa Sa Sa dalam aksara Jawa yang bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya).

Tugu Sa Sa Sa inilah sebenarnya yang dipercaya menjadikan gunung Tidar disebut sebagai pakunya tanah Jawa. Yang membuat tanah Jawa tetap tentram dan damai. Yang juga menjadi keinginan masyarakat kota Magelang yang ingin kotanya bebas dari Sukerta.

Kembul Bujono di Puncak Tidar

Kembul Bujono berakhir dengan reresik bareng atau membersihkan sisa-sisa sampah acara secara bersama. Saya turut mengikutinya. Setelah selesai saya kembali keliling sekitar puncak gunung Tidar bersama salah seorang admin media sosial terkenal di Jogja dan mas Andy dari Dinas Pariwisata kota Magelang yang mengundang saya dan teman-teman blogger. Ceritanya, saya mengunjungi beberapa makam dan sebuah petilasan di gunung Tidar. Kisahnya akan saya tulis pada artikel selanjutnya.

*Ruwat Bumi Gunung Tidar adalah salah satu acara dari rangkaian Festival Tidar 2016 yang berlangsung pada 9 s/d 11 Desember 2016. Diselenggarakan oleh Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Magelang, Festival Tidar hadir dengan beberapa acara seni budaya yang berpusat di gunung Tidar dan alun-alun kota Magelang. Puncak acara dari Festival Tidar 2016 adalah kirab budaya yang melibatkan 17 kelurahan di kota Magelang.

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
8 Februari 2017 13.15 delete

paling enak makan2 bareng tuh, hehehe banyak makanannya.. itu yg ditunggu2.hehe

Reply
avatar
8 Februari 2017 15.56 delete

insyallah besok malam otw jogya ... terima kasih kang referensinya

Reply
avatar
20 Februari 2017 09.00 delete

Wah, baru tahu kalau Pak Jokowi pernah nenyendiri di sana.

Reply
avatar