Susahnya Long Weekend di Jogja

1/30/2018
Susahnya Long Weekend ke Jogja

Seorang teman menggerutu kesal karena selalu kehabisan tiket pesawat untuk pulang ke Jogja saat long weekend. Padahal, momen long weekend adalah saat dimana ia dapat pulang dengan waktu yang lebih lama dari biasanya, -tanpa perlu cuti tentunya. Dengan terpaksa, teman saya tersebut harus memilih moda transportasi konvensional semacam kereta, bus atau mobil travel yang tentunya melelahkan.

Bukan karena alasan “menyukai kemewahan” teman saya memilih moda transportasi udara. Kalau dipikir jaman sekarang ini, naik pesawat sudah sangat murah. Harga sekali naik pesawat dari Jakarta menuju Jogja saja hampir sama dengan harga tiket kereta kelas eksekutif. Bahkan terkadang harganya bisa jauh lebih murah mendekati harga tiket kereta bisnis. Yang padahal waktu tempuh kedua moda transportasi sangat jauh mencolok. Pesawat Jakarta - Jogja cukup satu jam, naik kereta? Biasanya bisa 8 sampai dengan 10 jam. Tentunya hal tersebut sangat melelahkan. Apalagi naik bus atau mobil travel, sampai di Jogja lengkap sudah capeknya.

Alasan utama habisnya tiket pesawat menuju Jogja adalah menjadi favoritnya Jogja setelah Bali sebagai tujuan wisata di Indonesia. Hampir semua tempat wisata di Jogja selalu padat saat long weekend. Para warga Jogja yang menjadi perantau dan ingin pulang saat long weekend menjadi korban "susah pulang". Namun alasan yang sebenarnya yang jarang diketahui orang adalah karena terbatas akses menuju Jogja. Paling kentara adalah kapasitas Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang sangat terbatas.

Dalam majalah internal terbitan PT Angkasa Pura I yang saya baca, beberapa upaya telah dilakukan oleh PT Angkasa Pura I sebagai perusahaan yang mengelola Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Penambahan Terminal B yang dibuka sejak tahun 2015 tidak mampu menahan lonjakan wisatawan.

Wacana bandara baru Yogyakarta yang digadang-gadang sejak lama akhirnya dapat terlaksana pada awal tahun 2017 yang lalu. Kabupaten Kulonprogo, kabupaten di sebelah barat kota Jogja menjadi pilihan dari sekian opsi yang ditentukan pemerintah. Dipilihnya Kabupaten Kulonprogo tentunya sudah dipikirkan dengan matang. Selain menjadi pintu gerbang Jogja melalui udara, bandara baru ini diharapkan menjadi penyambung perekonomian Jawa bagian selatan yang mulai ditunjang juga dengan jalur darat.

Proses yang menyertai pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) memang menimbulkan beberapa kontroversi sampai saat ini. Salah satu yang paling di blow-up media adalah proses pembebasan lahan belum sepenuhnya dapat diterima oleh sebagian eks-warga yang wilayahnya masuk dalam proyek pembangunan bandara NYIA.

Progres pembangunan sedikit terhambat karena beberapa protes warga terdampak bandara sering melakukan demontrasi di wilayah pembangunan. Namun hal tersebut wajar adanya dalam sebuah proses pembangunan. Pemerintah DIY selalu menjembatani warga untuk duduk menyatukan pikiran dan tujuan.

Proses pembangunan untuk kemajuan memang membutuhkan kesatuan pikiran tidak hanya pemangku proyek namun juga warga sekitar karena goal dari proyek pembangunan bandara NYIA adalah untuk kemajuan daerah. Teori sederhananya begini, daerah yang akses masuknya mudah akan memudahkan pula peningkatan perekonomian.

Peningkatan perekonomian yang tentunya berujung pada kesejahteraan warga. Dan yang terpenting bagi teman-teman saya para perantau adalah mereka dapat tiket pulang saat long weekend datang. Konon katanya, bandara NYIA kelak dapat menampung 14 juta penumpang per-tahun dan akan ditingkatkan menjadi 20 juta per-tahun dalam perkembangannya.

Kalau itu benar, Kabupaten Kulonprogo sendiri tentunya harus siap menampung wisatawan. Beberapa wisata Kulonprogo memang sedang berbenah. Sebut saja Kalibiru, Pulepayung, wilayah persawahan Nanggulan dan lain-lain yang memiliki pemandangan alam yang luar biasa indah. Lalu beberapa wisata yang mulai tertata rapi seperti Taman Sungai Mudal, Wisata Durian Kalibawang dan Kebun Teh Nglinggo serta tentunya Pantai Glagah yang dekat dengan bandara NYIA.

Kiranya, apapun yang terbaik untuk Jogja harus selalu di dukung. Kontroversi akan selalu ada dimanapun. Namun untuk wisata Jogja dan tentunya teman saya yang susah long weekend di Jogja, bandara NYIA itu perlu.

Share this

Seorang blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
31 Januari 2018 07.10 delete

semoga bila bandara baru nya jadi penerbangan murah dari dan ke jogja makin banyak. meski buat saya biaya darat ke bandara jadi sangat mahal. karena jauh

Reply
avatar