Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

7/08/2016
Bukit Panguk Kediwung

Bukit Panguk yang berada di desa Kediwung, Mangunan adalah alternatif wisata baru di Kabupaten Bantul. Daerah Mangunan sendiri, sering kita mendengar wisata Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus dan Puncak Becici. Bukit Panguk hampir mirip dengan puncak Kebun Buah Mangunan dengan view kali Oyo yang mengular dihiasi kabut magisnya. Bedanya, di Bukit Panguk ini kita mendapat tambahan pemandangan matahari terbit yang mengagumkan dan pilihan gardu pandang yang lebih banyak.


Saya mengunjungi Bukit Panguk Kediwung saat bulan puasa. Kalau tidak puasa biasanya jarang sekali bangun agak pagian. Sehabis sholat subuh saya memacu motor matic saya menuju arah Mangunan. Start kira-kira jam 5.00 pagi, butuh 45 menit untuk sampai kesana dari rumah saya yang berada di pinggiran ringroad selatan. Saya sudah lumayan memacu kendaraan namun karena pada malam sebelumnya hujan, jalan menjadi basah dan saya terkadang pelankan laju. Pelan-pelan juga sinar mentari mulai terlihat. Saya seperti kejar-kejaran dengan sunrise yang hampir terlihat, takut ketinggalan pemandangan.

Sampai di belokan arah Kebun Buah Mangunan terdapat penanda Bukit Panguk, ternyata masih satu arah dengan kebun buah. Hanya saat akan memasuki kebun buah, kita harus berbelok ke kiri dan mengikuti jalan menurun. Bukit Panguk memang tidak setinggi puncak Kebun Buah Mangunan, sehingga kabut di Bukit Panguk bisa lebih tebal dan banyak daripada Kebun Buah Mangunan. Turunan yang saya lalui cukup curam dan licin, harus berhati-hati apabila menggunakan kendaraan roda dua.

Kabut tebal mengiringi perjalanan saya menuju desa Kediwung, efek hujan pada malam sebelumnya. Desa Kediwung yang memiliki Bukit Panguk ini adalah desa yang cukup terpencil menurut saya. walaupun ada beberapa bangunan rumah yang sudah modern namun jarak antar rumah dan desa terdekat cukup jauh, penerangan antar desa dan jalan pun kurang. Efek positifnya, kita akan merasakan benar-benar suasana pedesaan di tempat ini. Masyarakatnya lebih banyak bertani, walaupun dengan pembukaan obyek wisata seperti gardu pandang Bukit Panguk akan merubah mata pencaharian sebagian orang namun itu tidak masalah. Mari tetap dukung mereka untuk mengenalkan potensi wisata daerah, selama kedepan tidak menimbulkan konflik seperti wisata goa di kabupaten sebelah.

Sampai di desa Kediwung saya disambut pemuda desa yang mengarahkan saya ke obyek wisata. Senyum ramah saya dapati. Mereka bekerja sama agar jalan masuk-keluar kendaraan lancar. Setelah diberi karcis parkir saya langsung menuju parkiran yang masih berupa tanah yang diratakan. Banyak sekali orangtua dan pemuda desa yang terlibat. Saya diarahkan untuk parkir di satu area yang kosong. Wah, tidak semua obyek wisata bisa seramah ini kepada orang yang akan parkir batin saya. Diarahkan dan langsung ditatakan dengan rapi.

Rampung urusan dengan kendaraan saya langsung menuju salah satu gardu pandang. Ada lima buah gardu pandang di Bukit Panguk Kediwung ini. Empat buah berukuran kecil yang hanya disarankan untuk maksimal 2 orang, dan satu gardu pandang cukup lumayan luas yang berkapasitas hingga 10 orang. Satu gardu pandang berada cukup jauh dan tentunya jarang untuk digunakan, sebenarnya ingin pergi kegardu pandang yang satu ini karena cukup privat. Lalu ada satu dengan desain yang "lucu", mengambil istilah dari dedek-dedek gemes karena desain pagar gardu pandang ini terlihat modern. Yang lain gardu pandang hanya berbentuk kotak dengan tinggi pagar 50 cm yang bisa digunakan sebagai tempat duduk, cocok untuk menikmati kopi. Untuk gardu pandang yang paling besar pagar hanya terbuat dari bambu sehingga terlihat biasa-biasa saja.

Disarankan untuk tidak malu dan berani menegur wisatawan untuk gantian berfoto dan menikmati gardu pandang. Memang, sayapun sedikit jengkel karena mendapati wisatawan yang sangat lama berfoto di gardu pandang, bahkan sampai ada yang menyeletuk gantian dong, kabutnya keburu habis tapi wisatawan tersebut seperti pura-pura tidak mendengar. Pihak pengelola tidak henti-hentinya juga untuk menyiarkan batas waktu di gardu pandang dan himbauan untuk berhati-hati. Oh iya, bukit ini juga terkenal karena foto instagram beberapa waktu lalu yang menunjukan seseorang yang berdiri diatas pagar gardu pandang. Bahaya! Jangan lakukan jika phobia ketinggian atau tidak siap mental.

Hanya satu gardu pandang yang sempat mengabadikan foto saya. Lainnya saya hanya memotret orang lain. Sangat disayangkan sebenarnya, mau bagaimana lagi momen matahari terbit hanya sebentar tapi antrian untuk berfoto lumayan dan masih ditambah orang yang bikin jengkel karena lama-lama diatas gardu pandang padahal sudah ada himbauan dan plakat yang ada di pojok gardu. Untuk menikmati Bukit Panguk kita tidak dipatok tiket masuk yang mahal, cukup seiklasnya. Kira-kira saja sesuai kemampuan kita, syukur lebih untuk membantu perkembangan Bukit Panguk dan masyarakat Desa Kediwung pada khususnya. Yok, menikmati matahari terbit di Bukit Panguk Kediwung

Bukit Panguk Kediwung
Memandang matahari terbit
Bukit Panguk Kediwung
Kabut berkelok diatas sungai Oyo
Bukit Panguk Kediwung

Bukit Panguk Kediwung
Nekat!
Bukit Panguk Kediwung
Masyarakat Kediwung yang mulai membangun warung di sekitar bukit Panguk
Bukit Panguk Kediwung
Tidak ada patokan harga untuk menikmati bukit Panguk
(UPDATE) Pada awal tahun 2017 ini saya kembali mengunjungi bukit Panguk Kediwung. Dan beruntungnya waktu itu saya mendapatkan cuaca pagi yang lumayan cerah. Sedikit sunrise saya dapatkan. Bukit Panguk kediwung kini mulai tertata, beberapa warung telah berdiri, area untuk camping telah dibuat nyaman dan beberapa gardu foto baru telah dibuat dengan desain yang menarik, namun beberapa gardu kini tidak lagi gratis. Pengunjung akan dikenai retribusi sebesar Rp 3.000 untuk berfoto selama beberapa menit di sebuah gardu. Namun biaya retribusi tersebut masih tergolong wajar untuk membantu masyarakat Kediwung berdaya.

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Menikmati Matahari Terbit di Bukit Panguk Kediwung

Share this

Seorang Travel Blogger yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan di akhir pekan, makan-makan enak dan terkadang olahraga bersepeda agar hidup seimbang.

Related Posts

Previous
Next Post »

11 komentar

Write komentar
18 Oktober 2016 08.36 delete

Kalau mau lama2 di gardu pandang dan gak mau gantian suruh aja mereka bkin sendiri. Hihihi..

Reply
avatar
18 Oktober 2016 08.50 delete

Syahdu banget suasananya.. masukin bucket list ah kalo ke Jogja!

Reply
avatar
18 Oktober 2016 08.51 delete

Syahdu banget suasananya.. masukin bucket list ah kalo ke Jogja!

Reply
avatar
19 Oktober 2016 07.35 delete

Ini jg lagi hits bgt ya mas, selain mangunan itu sendiri

Reply
avatar
19 Oktober 2016 22.36 delete

Indah banget view dari menara pandangnya! Semoga bisa ke sana satu hari nanti. Duh itu nyebelin banget ya kalo ada pengunjung ngga mau gantian, monopoli tempat namanya.

mollyta(dot)com

Reply
avatar
28 Oktober 2016 08.39 delete

Maklum, sekali jepret belum puas

Reply
avatar
28 Oktober 2016 08.40 delete

Siiippppppppppppppppppppppppppppp.................

Reply
avatar
28 Oktober 2016 08.41 delete

Bener, lagi hits... dan masih banyak lagi obyek lain disekitarnya

Reply
avatar
28 Oktober 2016 08.43 delete

Biasanya pada disorakin hahaha

Reply
avatar